Abstraksi
Dalam pelayanan gerejawi, visi memegang peranan yang sangat penting. Ia sama dengan Bintang Utara yang terlihat di langit. Para nelayan suka menggunakannya sebagai penunjuk arah perjalanan. Visi akan mengarahkan kita untuk mencapai suatu tujuan. Kalau kita tidak mempunyai tujuan, maka kita tidak akan sampai di mana pun.
Menurut Rasul Paulus, “… mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan…, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13-14). Mengenali tujuan membuat kehidupan kita memiliki fokus. Tujuan itu akan memusatkan usaha dan energi kita pada hal yang penting. Tanpa tujuan yang jelas, kita akan terus mengubah arah, pekerjaan, hubungan, pelayanan, dan lingkungan dengan berharap agar setiap perubahan akan menghentikan kebingungan. Ibarat cahaya, fokus memiliki kekuatan. Cahaya yang menyebar memiliki sedikit kekuatan dan pengaruh, tetapi kita dapat memusatkan energinya dengan memfokuskannya. Ketika cahaya lebih difokuskan lagi seperti sinar laser, ia bisa memotong baja.
Tujuan yang jelas dan fokus untuk pengembangan pelayanan, maka kekuatan dan hasil akan menjadi kenyataan. Fokus Pengembangan Pelayanan Penginjilan Pribadi berawal dari Amanat Agung Tuhan Yesus menjadi Komitmen Pertama.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:19-20).
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).
Setelah melewati doa pribadi dan kelompok, tujuan untuk PI Pribadi dimulai melalui beberapa langkah berpedoman pada konsep pelayanan Tuhan Yesus dan Rasul Paulus. Baik Tuhan Yesus maupun Paulus mengutamakan doa, membangun persahabatan, konsentrasi pelayanan kota dan desa (kota dan kampung). Bila hubungan dengan anggota masyarakat sudah dibangun kemudian mengerahkan tenaga, pikiran, dan waktu untuk membentuk persekutuan rumah tangga; melalui persekutuan-persekutuan rumah tangga inilah kekuatan penginjilan untuk keluarga dan anggota masyarakat lainnya akan menjadi kenyataan.
Kitab Kisah Rasul mencatat bahwa persekutuan yang kuat akan melihat mujizat dan tanda itu nyata. Persekutuan, pelayanan mimbar, kesaksian, perkunjungan, dan pembinaan menjadi fokus pengembangan jemaat, titik beratnya ada pada Pelatihan Penginjilan Pribadi untuk jemaat awam. Jemaat yang sudah percaya kemudian diberdayakan untuk mencari dan memenangkan anggota keluarga, tetangga, dan teman-temannya untuk Tuhan Yesus.
Doa Untuk Pelayanan
Kunci utama keberhasilan penginjilan termasuk semua pelayanan gerejawi diawali dengan doa pribadi kemudian diangkat menjadi doa bersama untuk mencapai tujuan perluasan pelayanan gerejawi. Selain persiapan awal (Luk 8:41-52), berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam (Mat 4:1-11), kita dapat melihat teladan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam pelayanan-Nya. Sebelum Tuhan Yesus melakukan kegiatan harian, Ia berdoa pagi hari/dini hari (Mrk 1:35), Ia berdoa semalam-malaman sebelum pengambilan keputusan penting untuk regenerasi kepemimpinan/memilih rekan kerja (Luk 6:12-16). Ia berdoa pada saat pergumulan berat (Mat 26:36-46). Kemenangan orang Israel melawan orang Amalek juga memberikan contoh tentang kuasa doa (Kel 17:8-16), demikian juga dengan pengalaman Paulus dan Silas di dalam penjara Filipi (Kis 16:24-33).
Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus diundang untuk berdoa “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia (Ibr 4:16)”, diperintahkan berdoa “Tetaplah berdoa (1 Tes 5:17)”, menyatakan keinginan “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah (Fil 4:6)”, berdoa dengan tidak jemu-jemu “Mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1). Beberapa ayat Alkitab menjadi dasar pengharapan pada saat berdoa, di antaranya:
1. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa (Yak 4:2).
2. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu (Yoh 16:24).
3. Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yoh 15:7).
4. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19).
5. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya (Mat 21:22).
6. Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yoh 14:13).
7. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yoh 14:14).
8. Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya (1 Yoh 5:14-15).
9. Doa orang benar didengar-Nya (Amsal 15:29).
10. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yakobus 5:16).
11. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Ef 3:20).
12. Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapaku yang di Sorga (Mat 19:19).
Persahabatan
Perkataan Rasul Paulus (1 Korintus 9: 19-23)
19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Tujuan Persahabatan
a. Menanamkan Kesan, Simpati, dan Konsentrasi Lawan Bicara
Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni (Efesus 4:32). Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat (Roma 12:10).
1. Dinyatakan dengan sikap yang penuh perhatian kepada orang yang diinjili.
2. Mewujudkan suasana yang hangat dan komunikatif.
3. Mencegah munculnya penolakan.
4. Memulai persahabatan ibarat seperti menaikkan pesawat terbang (tinggal landas). Maksudnya diperlukan suatu perhatian penuh.
b. Mengetahui latar belakang dan kegiatan kerohanian orang itu.
c. Menciptakan keinginan untuk mendengarkan Injil.
d.Memperoleh hak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan analisa kerohanian.
e. Memastikan apakah kawan bicara telah memiliki hidup yang kekal.
Bila kita sudah mempunyai tekad untuk membangun hubungan persahabatan dengan orang yang menjadi target Pelayanan PI Pribadi, maka mulailah menyapa orang itu dengan ramah, penuh kasih, dan antusias seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus dalam pelayanannya “saling mendahului dalam memberi hormat (Ef 4:32, Roma 12:10), Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah (1 Kor 9:20-22)”. Kata Yunani untuk ramah adalah krestos berarti baik (dalam pengertian kualitas dan moral), kemurahan, ramah, enak.1)
Saat menyapa lawan bicara disertai senyum keramahan akan memberikan kesan tidak akan terlupakan. Perkenalkanlah diri Anda dan berkenalanlah dengan orang itu. Tanyakanlah nama, alamat, tempat tinggal dan yang lainnya untuk menjadi bahan perkenalan. Untuk membangun persahabatan dapat melakukan beberapa pembicaraan seperti berikut ini.
1. Kehidupan Sehari-harinya.
Mulailah dengan pembicaraan yang umum, misalnya tentang situasi setempat, berita yang sedang hangat dan lain-lain. Kemudian masuklah ke dalam kehidupan sehari-harinya. Cari bahan pembicaraan yang menyenangkan seperti masalah hobi, pekerjaan, keluarga, prestasi, dan lain-lain.
2. Latar Belakang Kerohaniannya
Tanyakan latar belakang rohaninya, apakah ia beribadah pada hari Jumat atau Minggu. Atau agama lainnya dengan cara yang halus secara tidak langsung.
3. Kegiatan Rohaninya
Tanyakan sejauh mana ia terlibat di dalam kegiatan rohani untuk mengetahui sejauh mana ia tertarik pada hal-hal rohani, arahkan pembicaraan ini sampai ia siap untuk diajukan pertanyaan-pertanyaan analisa kerohanian.
4. Kesaksian
Gunakanlah kesaksian untuk membuat dia tertarik pada apa yang akan disampaikan tentang hidup kekal yang cuma-cuma. Akhiri kesaksian itu dengan pertanyaan “Maukah Anda mendengar bagaimana saya memperoleh hidup kekal itu?”.
Penginjilan Pribadi
Membangun Hubungan Dengan Orang Yang Akan Diinjili
Injil Yohanes mencatat bahwa Andreas berhasil membawa saudaranya kepada Tuhan Yesus. Keberhasilan ini dapat disebut sebagai Penginjilan Pribadi yang sangat efektif. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: Kami telah menemukan Mesias, yang artinya Kristus (Yoh 1:41).
Dari contoh Andreas ini, kita dapat belajar tentang seorang yang sudah mengenal Tuhan Yesus mempunyai panggilan untuk mencari orang lain yang terhilang, dimulai dari lingkungan saudaranya. Andreas mempunyai hubungan dengan orang yang akan dibawanya kepada Tuhan Yesus. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk 19:10).
Pelayanan Penginjilan Pribadi yang paling efektif didasarkan pada hubungan pribadi perseorangan. Rahasia dari perkataan Andreas, "... kami telah menemukan" adalah pencarian seseorang akan kepuasan yang telah dipenuhi di dalam pengenalannya kepada Tuhan Yesus Kristus. Penginjilan secara pribadi adalah membagikan pengalaman keselamatan pribadi di dalam Tuhan Yesus kepada orang lain. "ia (Andreas) membawanya (Simon) kepada Tuhan Yesus" (Yoh 1:42).
Bagaimanakah hal ini dapat dilaksanakan? Tuhan Yesus memberikan jawaban-Nya. Ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia (Mat 4:19). Kasih kepada Tuhan Yesus akan menghasilkan kasih kepada sesama manusia.
Penguasaan cara membangun hubungan dengan sebanyak mungkin orang akan memberikan banyak peluang untuk Penginjilan Pribadi. Di antaranya, sebelum orang itu diinjili maka syarat utamanya adalah mengenal keberadaan orang yang bersangkutan selengkap mungkin. Peluang yang dapat dimanfaatkan melalui lingkungan keluarga, teman/sahabat, atau melalui perantaraan orang dan keluarga-keluarga yang sudah dikenal.
Pembicaraan Sesuai Dengan Situasi Dan Kondisi
Pelayanan Penginjilan Pribadi dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Yohanes 4:6-15 memberikan pedoman kepada kita tentang tempat penginjilan itu di pinggir sumur Yakub dan waktunya siang hari/kira-kira pukul dua belas. Pembicaraannya diawali dengan apa yang sedang dialami saat itu “menimba air”. Air dibutuhkan oleh perempuan Samaria itu. Dialog Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria ini dapat menjadi pedoman Pelayanan Penginjilan Pribadi:
- Memanfaatkan apa yang sedang terjadi/data sekarang sebagai bahan pembicaraan untuk penginjilan: air minum untuk diarahkan kepada air hidup.
- Lokasi/tempat Penginjilan: ada respon dari orang yang dijumpai. Hindari tempat tertutup, khususnya untuk penginjilan lawan jenis.
- Suasana: tenang.
- Hasilnya: petobat baru memberikan kesaksian kepada orang lain.
Penginjilan Keluarga
Paulus mengajar dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah orang yang sudah menerima Injil (Kis 20:20). Pencapaian pertama kelompok orang bukan Yahudi menjadi gereja Kristen adalah keluarga Kornelius perwira Roma di Kaisarea (Kis 10:7,24). Di Filipi, Paulus membawa keluarga Lidia dan kepala penjara beriman kepada Tuhan Yesus dan menyatu ke dalam Gereja-Nya (Kis 16:15, 31-34). Buah pertama dari misi besar rasul di Akhaya adalah keluarga Stefanus (1 Kor 16:15), Krispus dan Gayus (Kis 18:8; Rom 16:23; 1 Kor 1:14).
Jadi jelas bahwa gereja mula-mula memuridkan baik komunitas keluarga Yahudi maupun bukan Yahudi. Sama jelasnya bahwa anggota keluarga dipakai sebagai pelopor penginjilan. Akwila dan Priskila memakai rumah mereka di Efesus dan Roma sebagai pusat proklamasi Injil (Kis 18:18, Rom 16:3,5; 1 Kor 16:19). Para jemaat berkumpul di rumah Onesiforus (2 Tim 1:16; 4:19) dan Nimfa (Kol 4:15).
Penginjilan Masyarakat Kota
Pelayanan Penginjilan akan lebih baik bila dimulai dari pusat kota dan sekitarnya kemudian menyebar ke daerah lain yang lebih jauh. Masyarakat kota terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, usaha, ketrampilan, dan potensi lainnya. Keberhasilan mendirikan pelayanan berpusat pada pusat kota akan berdampak sangat positif untuk penjangkauan daerah di sekitarnya atau kota-kota yang berdekatan.
Ada beberapa Strategi Pelayanan Penginjilan Rasul Paulus yang dapat dijadikan contoh, di antaranya:
1. Mendirikan Gereja Kota
Paulus mendirikan gereja di kota-kota besar yang strategis seperti Filipi, Efesus, dan lain-lain agar sebanyak mungkin orang mendengarkan Injil. Setelah jemaat kuat dijadikan pusat pemberitaan Injil, kemudian jemaat itu mengutus Paulus dan mendukung pelayanannya ke tempat yang baru. Paulus menulis surat kepada jemaat untuk membangun hubungan yang lebih akrab dan bersahabat, salah satu tujuannya agar tetap ada komunikasi.
Menurut D.A McGavran2) ada enam hal yang dapat dilakukan untuk penginjilan di tengah-tengah masyarakat kota, yaitu:
1. Tekankan pada gereja rumah (kelompok kecil).
2. Siapkan dan latihlah pemimpin sukarela.
3. Kenalilah tempat masyarakat yang tertutup terhadap Injil
4. Berkonsentrasilah pada masyarakat yang terbuka terhadap Injil.
5. Tanganilah persoalan sosial ekonomi anggota.
6. Komunikasikanlah iman secara positif dan meyakinkan.
2. Tempat-tempat Strategis
Pelayanan Penginjilan Paulus memakai tempat-tempat umum yang sangat strategis, yaitu rumah ibadat orang Yahudi, pasar-pasar, rumah-rumah . dan tempat belajar/ruang kuliah Tiranus (Kis 17:1-3, 17, 14:1, 19:9).
3. Penjara (Kis 16:19-34)
4. Rumah (Kis. 20:20; 20:31)
5. Lintas Budaya (Kis. 14:8-18, 17:23-25, 28, 31)
0Awesome Comments!